Ahmad-Khamaludin-2014

Ahmad Khamaludin

Ahmad Khamaluddin dipanggil akrab dengan nama Heru.  Heru adalah  anak ke-2 dari 2 bersaudara. Ayah bekerja sebagai karyawan sipil di Kodim Purwakarta. Heru sekarang berstatus sebagai anak yatim, karena ayah meninggal ketika Heru masih balita.  Heru tinggal Sadang Kabupaten Purwakarta bersama kakak kandung  perempuan, karena ibu pergi bekerja sebagai TKW.   Sehari-harinya selain membantu kakak di rumah,  juga  membantu mengasuh anak paman, dan dari kasih sayang paman Heru memperoleh tambahan uang jajan. Heru kurang merasakan kasih saying dari ibu kandung, karena sepulang dari bekerja sebagai TKW, ibu dalam sakit.

Sekolah di SMP Negeri 7 Purwakarta dijalaninya dengan penuh keprihatinan, setelah lulus SMP Heru ingin melanjutkan sekolah karena ingin memiliki masa depan yang lebih baik. Tetapi kebingungan masalah biayanya.  Fasilitas belajar sangat terbatas, hanya dapat memenuhi kebutuhan yang sangat mendesak saja.

Proses  masuk ke PSAA Daarul Hasanah

Informasi Daarul Hasanah diperoleh  dari  guru ngajinya, pak Lutfi. Beliau bekerja selain sebagai guru ngaji di kampung juga sebagai PNS guru SLB di SLBN Purwakarta dan kebetulan satu tempat kerja dengan pak Saeful yaitu salah seorang pengurus PSAA Daarul Hasanah di Karawang.

Heru ditawari untuk tinggal di panti oleh pak Lutfi. Sebelumnya Heru ragu kebenaran panti itu, karena yang Heru bayangkan kalau tinggal di panti akan ditugaskan mencari dana dengan cara keliling dengan mobil atau di atas mobil umum meminta sodaqah jariah.  Selain itu Heru berpikir juga, masa sih di jaman sekarang ketika sebagian orang selalu berpikir tentang keuntungan, kok masih ada orang yang berjiwa sosial sampai mau membantu membiayai sekolah tanpa ada biaya sedikitpun.

Untuk menghilangkan keraguan Heru bersama guru ngaji dan kedua kakaknya mendatangi panti Daaruh Hasanah di Karawang. Setelah berbicara panjang lebar  dengan ketua yayasan,  dan dengan  anak yang tinggal di panti, maka keraguan Heru mulai berkurang.

Beberapa hari kemudian  pak Lutfi meminta  kepastian dan berkas data pribadi, padahal Heru pada waktu belum memutuskan untuk tinggal di panti. Kemudian atas dasar saran kakak perempuan yang selama ini mengurus dan membiayai sekolah Heru, maka Heru memutuskan untuk mau tinggal di panti untuk sekolah.  Alasan keputusan itu diantaranya ingin meringankan beban keluarga kakak, ingin belajar mandiri dan untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya.

Kehidupan setelah berada  di PSAA Daarul Hasanah

Heru merasakan adanya pencerahan terhadap cita-citanya.  Di panti kehidupan sesama teman sangat akrab, bisa curhat pada teman terdekat, pada pengurus, misalnya tentang  pendidikan, masa depan. Kekeluargaannya membuat merasa nyaman, lebih dari keluarga  di rumah. Kebutuhan sekolah terpenuhi secara lengkap, sehingga Heru sangat bersemangat untuk belajar, dan prestasinya pun sangat baik.  Heru ingin bisa sekolah sampai ke perguruan tinggi, karena bercita-cita untuk menjadi ilmuwan.

Suasana kehidupan di panti dirasakannya seperti kehidupan di pesantren modern, karena selain belajar ilmu pengetahuan di sekolah umum, di panti juga diajari mengaji baca Al-Qur’an setiap malam dan mengaji kitab kuning oleh tim pengurus bidang pendidikan.

Melihat kesungguhan pengurus yayasan dan pengurus panti, Heru menjadi yakin bahwa dengan semangat belajar yang kuat, akan berhasil meraih cita-cita.

Category: .