Nasirul-Hajin-2014

Nasirul Hajin

Nasirul adalah anak ke-1 dari 2 bersaudara.  Ayah bekerja sebagai buruh tidak tetap. Ayah dan ibu telah bercerai dan masing-masing menikah lagi.  Nasirul  tinggal dengan orang tua kandung (bapak) dan ibu tiri,  tetapi rumahnya menumpang di mertua orangnya. Di rumah, Nasirul mencuci pakaian sendiri,  karena belum bisa menyetrika baju Nasirul bersekolah dengan pakaian yang kurang rapi. Dia bersekolah baru sampai kelas 3 SD di dekat rumah. Sebelum sekolah Nasirul sarapan makan supaya hemat uang jajan. Kadang diberi Rp. 1.000/Rp. 3.000  sehari, tapi kadang-kadang tidak diberi uang jajan. Makan yang terpenuhi adalah makan siang dan makan sore, meskipun dengan makanan yang sederhana.

Untuk kebutuhan belajar, Nasirul tidak membeli buku paket. Dia memiliki baju  4  stel untuk 4 macam seragam, tas baru dibeli dengan uang tabungan sendiri. Sepatu, Nasirul punya 2  pasang.

Proses masuk ke PSAA Daarul Hasanah

Keberadaan tentang PSAA Daarul Hasanah diketahuinya dari papan nama panti ketika lewat,  kemudian bapaknya mampir ke panti untuk menitipkan Nasirul dengan alasan kesulitan ekonomi. Di rumah, Nasirul ditanya mengenai tinggal di panti dan diminta kesediaannya untuk tinggal di PSAA Daarul Hasanah. Nasirul dengan tidak perlu berpikir panjang untuk menjawab mau tinggal di panti karena ingin bisa sekolah, dan ingin jadi polisi.

Kehidupan setelah berada  di PSAA Daarul Hasanah

Meskipun baru, Nasirul dapat bersosialisasi dan cepat akrab,  dia berani meminta tolong pada teman yang lebih dewasa seperti kepada kakaknya. Nasirul merasa senang tinggal di panti, karena dapat memiliki keperluan sekolah seperti buku, pakaian, dan perlengkapan yang layak seperti temannya yang lain.   Meskipun jauh dari orangtua, Nasirul merasa nyaman tidur dengan teman-teman di panti  lebih dari rumah sendiri. Nasirul selalu ceria, meskipun tergolong masih kanak-kanak, dan merasa yakin nanti setelah besar dia bisa jadi polisi.

Category: .